Turun dari bus kota Na
goya, kami menelusuri jalan menuju incineration plant. Saya sudah lama menunggu tur ini karena penasaran sampah-sampah yang saya pisah-pisahkan selama ini diapakan oleh pemerintah Nagoya? Hari itu, kami berkesempatan mengunjungi Inokoshi Incineration Plant, tempat pembakaran sampah organik atau sampah yang harus dipisahkan ke dalam plastik yang ada tulisannya berwarna merah, saya dan suami biasa menyebutnya dengan sampah "merah".
"Kok ada truk kecil dan besar ya?" tanyaku.
"Lho, mana asapnya?" tanya seorang teman. Ketika kami melewati cerobong asap, tidak kelihatan sama sekali efek hasil pembakaran sampahnya.
Kami masuk ke dalam gedung dengan mengganti sepatu kami dengan sandal selop yang disediakan, lalu terheran-heran. "Bangunan ini layaknya sebuah hotel, tidak ada bau sama sekali" pendapat dari senseiku. "Ini seperti rumah sakit tempat aku melahirkan" gumamku dan seorang mahasiswa Indonesia lain. Kami semua bertanya-tanya bagaimana incineration plant ini meminimisasi polusi udara, suara, bau, air, getaran. Layaknya tempat pembuangan sampah akhir, setidaknya polusi-polusi seperti itu yang ada di bayanganku.
"Ohayou gozaimasu" sapa petugas Incineration plant. Beliau bertugas sebagai guide kami selama 2 jam studi tur di dalam incineration plant.
Sebenarnya kemana sampah merah yang kita pisah-pisahkan selama ini di Nagoya?
Berikut ini resume dari penjelasan tutor tersebut :
1. Sampah diangkut oleh truk besar maupun kecil dari perumahan dan perkantoran. Truk besar mengangkut sampah dengan volume lebih banyak, sedangkan truk kecil mengangkut sampah di jalan yang lebih kecil dengan kapasitas yang lebih sedikit pula. Di Jepang, banyak jalan perumahan yang kecil karena terbatasnya lahan.


2. Truk
sampah ditimbang sebelum masuk ke dalam tempat pembuangan untuk diukur berapa banyak sampah yang diangkutnya.
3. Sampah dibuang ke dalam kotak penampungan oleh petugas sampah kota Nagoya. Sebenarnya kita sendiri pun bisa membuang dengan truk pribadi dengan dikenakan biaya 1 kg sampah = 20 yen.
Note : Pada waktu truk memasuki gedung tempat pembuangan, ada teknologi untuk mencegah bau yang ada di pintu masuk ke dalam gedung tersebut. Prinsipnya memakai tekanan udara. Jadi, udara yang mengandung bau akan tetap berada di dalam gedung dan sebaliknya. Analoginya seperti kipas angin/penyejuk udara yang ada di pintu masuk department store.
4. Setelah sampah dikumpulkan jadi satu di kotak pembuangan, lalu dibakar sedikit demi sedikit dengan suhu 600 C dengan 3 proses : pengeringan - pembakaran - proses lebih lanjut. Mengapa dipilih suhu 600 C? Menurut penjelasan tutor, suhu 300 C itu akan menghasilkan zat berbahaya, dioxide, karenanya langsung dinaikkan ke suhu 600 C.


5. Setelah pembakaran selesai, abu hasil pembakaran diolah kembali untuk menghilangkan senyawa kimia yang berbahaya. Jadi tidak ada abu yang dibuang bebas di landfill karena berbahaya.

6. Abu yang sudah aman akan dipergunakan kembali untuk pembuatan campuran pada aspal jalan. Di masa depan, akan diusahakan untuk campuran pada dinding tembok.
7. Lalu, kemana energi hasil pembakaran? Energi panas digunakan untuk energi listrik incineration plant itu sendiri. Sisanya dijual kepada perusahaan listrik di Nagoya sebagai pendapatan tambahan.
Bagaimana jawaban atas masalah polusi udara yang ditimbulkan dari hasil pembakaran sampah ini? Tutor kami menjelaskan bahwa tempatnya bukan tempat yang berpolusi terbesar di Nagoya. Dia menyebutkan tempat lain yang menyumbang polusi udara besar di Nagoya, yaitu jalan tol No.1 Atsuta.
Lebih lanjut, mengenai dampak negatif kepada lingkungan sekeliling plant, tutor juga menjelaskan bahwa sekeliling plant ini juga seperti layaknya perumahan dan jalan raya biasa. Lebih lanjut, Ia menambahkan fasilitas ini juga mematuhi peraturan minimal jumlah pohon hijau yang wajib ditanam oleh sebuah bangunan di tengah kota. Jadi, selain dengan teknologi tinggi, mereka pun berusaha patuh terhadap penghijauan untuk mengurangi polusi udara.
Bagaimana dengan polusi suara dan getaran? Tutor menjelaskan bahwa mereka menggunakan teknologi kedap suara dan getaran. Gedung dibuat 2 lantai bawah tanah dan 7 lantai atas tanah. Lalu mengenai polusi air, tutor tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini.
Apakah fasilitas seperti ini layak dibangun juga di negaraku? Jumlah 32 billion yen dan rentang pembangunan selama 1996 - 2002 memang tidak mudah direalisasikan. Teknologi pun semuanya canggih perpaduan antara teknologi Swiss, Italia dan Jepang sendiri. Tutor mengatakan pembangunan ini sifatnya mengakomodasi kebutuhan Nagoya. Oleh karena itu, sumber daya manusia juga penting. Sampai sekarang pun, memang mesin juga ikut mengoperasikan plant ini, namun Ia mengatakan manusia tetap jauh lebih hebat dibandingkan mesin dan komputer. Jadi, manusia adalah aset utama dalam proses pembangunan dan operasional.
Sebenarnya mengapa Nagoya membangun fasilitas ini? Mereka juga terpaksa mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Tahun 1999 pemerintah Nagoya mengeluarkan keadaan darurat dan mengeluarkan peraturan darurat atas sampah. Sampah yang tidak terangkut di tengah kota karena tidak ada permanent landfill di Nagoya membuat masyarakat dan pemerintah daerah bekerja sama mengelola sampah. Akhirnya pemerintah mewajibkan pemilahan sampah menjadi organik (sampah di plastik merah), inorganik untuk di daur ulang (sampah di plastik biru), dan dibuang ke permanent landfill (sampah di plastik hijau).
Mereka memilih cara daur ulang dan pembakaran karena keterbatasan lahan untuk membuang sampah. Memang Jepang terkenal mahalnya sewa tanah karena sempitnya lahan yang tersedia. Meskipun cara daur ulang dan pembakaran ini tidak murah, tapi itulah yang dipilih diantara pilihan yang sulit saat ini. Dimana-mama pasti ada opportunity cost dalam suatu keputusan.